blog*spot
get rid of this ad | advertise here
internal artikel indiCOMIC.com: INDEPENDENTS COMICS' PUBLISHING, DISCOVERY GALLERY & IDEA GENERATES

Wednesday, July 07, 2004

INDEPENDENTS COMICS' PUBLISHING, DISCOVERY GALLERY & IDEA GENERATES

sebuah pemikiran, gagasan dan usulan untuk kemajuan komik Indonesia
oleh: FIRMANSYAH RACHIM

apa yang saya paparkan disini mengacu kepada kondisi, fakta dan realita dalam perkembangan komik Indonesia saat ini dan sama sekali bukan suatu konsep yang bersifat teori maupun kajian ilmiah, maka ini adalah sebuah gagasan yang disesuaikan dengan kapasitas dan visibilitas komik Indonesia yang berupaya untuk 'sesegera' mungkin menjadi eksis dan establis…

indie comics as a lifestyle

Setelah musik, film, majalah, kini komik Indonesia pun indie. Ada kecenderungan dan persamaan dalam genre dan aktifitas yang menuju kepada perubahan lifestyle. Barang pabrik, mass product dan 'ngepop mulai ditinggalkan dan beralih kepada segala sesuatunya yang serba terbatas, eksklusif dan custom. Ini ada-lah suatu sinyalemen terhadap perubahan nilai-nilai umum dimasyarakat kota. Kini cara pandang mulai berani mengacu kepada nilai-nilai unik, krea-tif dan sarat dengan kebaruan ketimbang dengan segala sesuatunya yang konvensional.

Yang menarik adalah adanya usaha untuk me-nawarkan nilai baru yang bukan selera pasar namun demikian secara tak langsung (entah sadar atau tidak) menjadi upaya untuk membentuk pasar. Ini adalah sebuah potensi baru dengan produk baru dan pasar baru (baca komunitas) yang belum jenuh.

Keberpihakan atau pemilihan komikus Indonesia terhadap indie mengacu kepada dua hal besar:

1. Indie as an easy way
Disini pelaku komik melihat dan menyikapi indie se-bagai suatu cara yang mudah dilakukan, cepat dan murah meriah. Kebanyakan punya harapan untuk bisa kejenjang berikutnya…major label. Jadi pe-laku komik di alur ini merupakan komikus yang menjadikan indie sebagai batu loncatan untuk menjadi major.

2. Indie as a concept
Disini pelaku komik menyikapi indie sebagai 'keya-kinannya' (gaya), bukan sekedar cara yang mudah, cepat dan murah meriah melainkan lebih kepada sikap untuk tidak mau menjadi major.
Dari kedua hal besar diatas perbedaan-perbedaan yang tampak dalam komiknya adalah, yang pertama indie sebagai sebagai batu loncatan pada umumnya ide cerita dan penokohannya masih sekitar konsep utopia dan idol. Lalu gaya gambar 'ke-anime-anime-an'. Masih selera pasar major (populer).

Akan halnya indie sebagai suatu konsep lebih me-nitik beratkan kepada cerita keseharian, kisah nya-ta, masalah-masalah sosial, dll. Gaya gambarnya memiliki karakteristik yang kuat (tidak 'ke-anime-anime-an' ataupun ke 'marvel-marvel-an').

Namun demikian keduanya menganut paham foto-kopi sebagai teknik cetak/penggandaan komiknya dan umumnya tidak anti pembajakan, dan yang pa-tut disimaki dalam perkembangannya adalah kepa-da produktivitasnya… Komikus-komikus indie ter-sebut sangat produktif dalam berkary, paling sedikit seorang komikus mampu menciptakan 1 sampai dengan 2 buku baru / 3 bulan.

Komikus indie, berkumpul, berkarya dan berakti-fitas. Komunitas komik indie tersebar disebagian besar pulau Jawa, satu dua ada di Sumatera, Sula-wesi dan Bali. Komunitas ini sebagian besar terga-bung dalam Masyarakat Komik Indonesia (MKI). Da-lam jaringan eksklusif tersebut mereka saling bertukar informasi, saling memasarkan dengan cara titip jual melalui event-event komik reguler. Dari sana tercipta jaringan yang makin luas dan besar. Hal ini terjadi di setiap komunitas komikus indie di-manapun di dunia. Kegiatan kumpul-kumpul ter-sebut tidak hanya di dalam negri, sekali waktu komikus Indonesia diundang pula keluar negri atau sebaliknya. Dan menurut pengakuan John Weeks (American Indie Artist) komunitas komikus indie In-donesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Ba-hkan dalam penyelenggaraan event-event komik, Indonesia termasuk mewah (diskusi building networking, PKAN IV, Jogyakarta 6 12 Sept 2003 ).
Ada kekuatan dan kebersamaan dalam tubuh MKI untuk menggempur pasar komik di Indonesia, walaupun oplah terbatas (50-500 eks./komik) dan harga yang bervariasi (Rp.500-Rp.20.000,-/komik) tapi pembelinya ada dan sold out. Penjualan ter-besar adalah dari event untuk kemudian pembeli akan datang sendiri ke studio masing-masing ko-mikus atau dari MKI melalui milis mki@yahoogroups.com, tak jarang pula pembeli tersebut datang langsung ke MKI. Beberapa komi ada juga yang di titip jual ke distro-distro.

Komik dan merchandising.
Cukup banyak pula komik-komik indie yang diba-rengi dengan merchandisingnya, seperti T-shirt, topi, tas, memo book, stiker,dll. Beberapa produk tersebut kebanyakan hasil upaya sendiri (modal pribadi atau patungan), namun ada pula yang ber-sifat kerjasama dengan berbagai pihak produsen, misalnya T-shirt sebagai hasil kerjasama dengan perusahaan garmen.

Perkembangan komik indie ini telah merambah jauh dari sekedar hobi dan eksplorasi komik. Keba-nyakan dari pelaku didalamnya telah menyikapi se-cara sungguh-sungguh komik indie sebagai aktifitas dan banner yang melekat dalam eksistensinya se-bagai lifestyle. Pada sisi ini komunitas komik indie ini telah diakui sebagai komunitas besar dalam dunia indie secara umum, sehingga seringkali ko-mikus indie tersebut berkolaborasi dan berbaur diberbagai banner indie lainnya seperti musik, film, animasi dan lainnya.

Komikus sebagai profesi
Komik, hobi, aktifitas dan profesi. Pada proses awalnya pemilihan komik sebagai jalur mata pen-carian dimulai dari sekedar hobi iseng yang meng-hasilkan. Namun demikian dalam kurun waktu re-latif singkat (10 tahun.)
komik sebagai media apresiasi karya bagi seniman mulai diminati sebagai media yang memiliki peran ganda (media komunikasi populer). Sehingga ke-pentingan komik tidak lagi sekedar berbasis pada nilai-nilai estetika semata, lebih dari itu dijadikan sebagai alat propaganda untuk menyampaikan pe-san. Berbagai kelompok dalam masyarakat dari berbagai kalangan mulai melirik komik sebagai bagian dari konsep komunikasi. Adanya respon aktif dari masyarakat tersebut menjadikan harapan baru bagi komikus untuk dijadikan lahan profesi. Kini proses berkarya bukan lagi sekedar iseng-iseng ataupun hobi, lebih obyektif lagi telah disikapi sebagai suatu jasa pesanan.

Portofolio studio maupun perorangan kini tidak sekedar tampil dalam konsep estetika semata, na-mun telah berani menampilkan komik sebagai kon-sep produk. Ada upaya untuk melangkah lebih jauh keluar dari lingkungan eksklusif menjadi lebih po-puler. Kondisi ini sangat membantu menempatkan komik sebagai produk yang memiliki kredibilitas tersendiri dimasyarakat dan menumbuhkan self confidence dalam diri komikus untuk berani ber-tahan sebagai komikus dalam ruang lingkup seni dan desain.

Metodologi produksi
Target dan tujuan membuat komik menjadi dasar yang metodologis dalam produktifitas komik Indo-nesia saat ini. Berbagai macam metode diterapkan dalam berbagai kelompok, perorangan maupun institusi yang menghasilkan beragam kinerja pro-duksi komik. Awalnya hanya berbekal semangat dan motivasi untuk membuat komik yang didasari hobi. Sejalan dengan perkembangan MKI sendiri dan seringnya komunitas tersebut beraktifitas bareng-bareng, menjadikan kebiasaan tersebut agenda rutin. Dari adanya rutinitas ini muncul ke-sepakatan-kesepakatan untuk terus memunculkan karya baru. Animo masyarakatpun bertambah ter-hadap komik sebagai aktifitas positif. MKI kemu-dian membuat program workshop komik singkat (sejak 1997). Dari hasil workshop ini banyak me-munculkan karya-karya komik baru sekaligus komikus baru.
Wabah komik ini menulari banyak kalangan dalam masyarakat, dari mulai anak-anak, remaja, se-kolah sampai dengan institusi perguruan tinggi (senirupa). Konsepsi workshop pun berkembang dari sekedar tips dan teknis pembuatan komik menjadi konsep kurikulum pelatihan. Kini hampir diseluruh institusi senirupa menjadikan komik sebagai bagian dari mata kuliah ilustrasi. Hasilnya pun berbeda, kinerja yang dihasilkan lebih 'meng-gigit' (estetika) karena didasari oleh kewjiban membuat komik atau dapat nilai rendah, bahkan tidak lulus.
Beberapa kelompok lainnya, baik perusahaan maupun lembaga-lembaga kemasyara-katan lainnya menjadikan komik sebagai konsep produk.
Bermunculanlah kegiatan-kegiatan lomba komik dengan kinerja yang lebih maksimal dan kontekstual (sesuai dengan tema lomba) karena ada iming-iming hadiah ataupun sekedar partisipan. Pada sisi lain, komik sebagai pesanan ataupun kerjasama penerbitan pun menambah khasanah produksi komik Indonesia.

Potensi dan peluang
roduktifitas komik Indonesia terbanyak saat ini diisi oleh komik-komik indie. Dengan kemasan yang khas (fotokopian), jumlah eksemplar terbatas. Namun beragam judul cerita, beragam format menjadikannya khasanah komik Indonesia yang sangat variatif. Ini adalah potensi kreatif yang jauh berkembang dengan era komik Indonesia tahun 70-an yang ketika itu muncul kecenderungan stereotip pada produksi komik 70-an, satu komikus bikin komik roman remaja yang lain pun bikin roman remaja ketika terjadi booming komik silat yang lain pun bikin komik silat. Komik indie menampilkan beraneka ragam alternatif cerita, dari yang paling naïf, super hero, kisah nyata, sosial, roman, humor, parodi, 'nyeni sampai yang sadis dan pornografi, dll. Ragam format pun cukup beraneka, dari mulai ukuran saku, A4, setengah A4, komik strip, kompilasi, dll. Ada yang berwarna, half tone, atau hitam putih, walaupun lebih banyak hitam putih (fotokopi). Indie sebagai pijakan memang banyak berperan pada tingkat produktifitas komik Indonesia. Hal ini disebabkan adanya prinsip indie yang tidak terlalu membebani dalam aturan-aturan main…bahkan tidak anti pembajak (sebaliknya malah dijadikan respon kreatif).

Komunitas dan aktifitas sangat berperan penting dalam perkembangan produksi komik indie ini. Adanya komunitas dan aktifitas yang terus berkembang menjadikan konsep pasar eksklusif bagi komikus indie…yang sekaligus menjadi jaminan komiknya akan dibeli…apaun hasilnya. Peranan indie sebagai lifestyle sangat dominan dalam kinerja dan hasil komik yang diciptakan…komikus indie merespon lifestyle indie sebagai trend. Ada fenomena yang muncul berbarengan dalam era indie ini, yaitu demand komik tidak hanya direspon oleh pembeli namun demikian pada pelaku komik juga. Sehingga begitu mereka memulai sebagai pelaku komik, pembelinya sudah siap membeli.

Catatan penting dalam potensi komikus indie ini adalah orientasinya yang fleksibel…kalaupun belum untung setidaknya eksis (tetap bikin komik). Ada dua hal penting dalam etos dan semangat komikus indie ini, produktif dan komersil. Potensi ini selayaknya dapat diasah dan dipertajam untuk menjadikan komik indie lebih matang lagi dan memiliki kwalitas komik sebagai sebuah produk sehingga dapat diterima sebagai alternatif industri komik Indonesia.

Potensi komik indie sebagai peluang bisnis adalah bisnis yang berorientasi pada investasi kecil. Cetak hitam putih (satu warna), eksemplar terbatas dan dijual customize. Dengan sedikit memoles potensi komik indie (fotokopian) menjadi 'barang dagangan' yang dikemas dengan kwalitas mesin cetak telah cukup banyak mengankat citra komik indie tersebut. Umumnya konsepsi warna hanya pada cover saja, namun demikian ada juga komik indie yang berwarna secara keseluruhan. Sementara harga jual dapat mematok dengan harga eksklusif (lebih tinggi dari major label), karena jumlah/oplah cetak yang terbatas, eksklusif (sesuai sasaran/tidak untuk orientasai mass product) dan bersifat customize bahkan potensial sebagai collector item.

Kelemahan dan kendala
Kelamahan yang paling utama adalah pada cerita. Ini adalah persoalan umum pada komik-komik Indonesia, khususnya pasca 70'an. Kemampuan gambar yang baik tidak dibarengi oleh kemampuan dalam mengolah cerita yang baik pula. Sehingga seringkali kwalitas gambar yang baik tersebut tidak 'berbunyi' karena lemahnya cerita. Secara umum kelemahan komik-komik Indonesia cukup banyak yang terkesan 'prematur' atau asal jadi. Namun demikian ini adalah kelemahan komik sebagai produk, jadi sama sekali bukan kelemahan komikusnya. Sebaliknya perlu suatu upaya untuk membantu potensi komikus-komikus tersebut untuk dapat menghasilkan kwalitas komik yang baik secara keseluruhan, cerita yang asik, gambar yang apik!. Jika dilihat dari sudut pandang diatas ini adalah kelemahan dalam manajemen produksi. Kebanyakan komik-komik Indonesia dieksekusi oleh (hanya) komikus saja yang kemampuan dan potensinya adalah menggambar, bukan pencerita/penulis cerita.

Kendala umum adalah manajemen, disamping biaya atau permodalan. Cukup banyak studio komik maupun kelompok-kelompok komikus di Indonesia, namun sedikit sekali dari kelompok-kelompok tersebut diatas yang memiliki talent pencerita yang baik. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor kendala, al: kurangnya wacana komik sebagai product knowledge (esensi komik adalah cerita, gambar adalah eksekusinya), lemahnya pengolahan cerita umum menjadi cerita untuk komik (dibutuhkan kemampuan untuk membuat script cerita komik), upaya untuk menyatukan pencerita dan penggambar untuk mengeksekusi komk belum maksimal.

Kendala paling umum dari keberadaan komik dan komikus Indonesia adalah menembus jaringan pasar (masyarakat) yang telah terbentuk oleh komik-komik asing, disamping distribusi yang juga telah 'dikuasai' oleh komik-komik saduran tsb. Hal ini menyebabkan lemahnya gaung komik-komik produksi lokal tsb. Disamping itu sikap un self confidence komikus dan penerbitan komik Indonesia yang cenderung lebih suka 'bermain' atau 'terjebak' dalam lingkungan komunitasnya saja menambah lemahnya gaung komik Indonesia di masyarakat luas.

Secara umum ini adalah kelemahan dalam manajemen. Sampai saat ini setelah 10 tahun lebih belum ada yang mampu (pernah dicoba) untuk membuat format maupun sistem manajemen produksi komik yang kontinyu. Satu dan lain hal adalah masalah effort dan kecenderungan bisnis yang ingin langsung untung (komikus dan investornya). Perlu satu komitmen, visi, misi dan orientasi yang sama untuk membangun dan menciptakan pasar komik Indonesia. Artinya perlu satu kesadaran bahwa dalam konteks membangun keuntungan finansial bukanlah target didepan/utamanya, namun demikian ada satu harapan dan peluang bahwa keuntungan akan dapat diraih berlipat ganda jika upaya tersebut mau ditempuh dengan benar dan dengan effort yang stabil.

An Idea Generates
Berangkat dari ulasan diatas kita telah bisa memetakan kondisi komik dan komikus Indonesia serta pasar komik pada umumnya. Seperti halnya indie sebagai lifestyle adalah sebuah genre yang kini paling mendominasi potensi pasar dan kreatifitas (termasuk komik), segala bentuk upaya dan usaha mencirikan bentukan-bentukan yang sangat spesifik. Indie merupakan pijakan sekaligus komitmen terhadap aturan main yang diminati (mudah direspon). Komunitas indie adalah sebuah pemikiran sindikasi sebagai upaya menggalang kekuatan sekaligus proses pembentukan pasar terhadap pola kerja produksi yang bersifat customize. Sudah saatnya komunitas ini memperluas (bukan memperbanyak) jaringan kerjanya. Saat ini komunitas komik indie lebih banyak direspon oleh pelaku komik (komikus) dan cenderung makin banyak (tiap tahun bertambah sekurang-kurangnya 10 pelaku komik indie).

Penerbitan, distribusi dan manajemen produksi merupakan aspek jaringan yang paling dibutuhkan saat ini. Disamping tentunya konsepsi dagang yang sekiranya dapat diselaraskan dengan konsepsi indie untuk menciptakan dan memperluas jaringan pasar keluar dari lingkungan komunitas komikus indie dengan cara membentuk sindikasi baru yang lebih besar, komikus & penerbitan komik. Dengan adanya sindikasi tsb. diharapkan dapat saling memenuhi kebutuhannya masing-masing, komikus butuh untuk terbit, penerbit butuh khasanah komik. Persoalannya sekarang adalah masing-masing pihak harus mau membangun komitmen (effort, waktu, tenaga dan biaya) untuk menempatkan sindikasi ini sebagai konsep research & devolopment. Jadi persoalan-persoalan mengenai keuntungan (profitable) harus diatur sebagai benefit jangka panjang.Yang terpenting saat ini adalah bagaimana masyarakat umum dapat mendapatkan komik-komik Indonesia ditengah-tengah maraknya komik-komik asing. Awalnya adalah dengan menciptakan awarness, jadi bukan target untung dulu.

Hal lain yang harus ditempuh adalah menemukan format dagang yang jitu. Marketing komik bukan marketing buku. Sehingga marketing komik harus mampu berstrategi untuk menciptakan awarness toko komik, bukan toko buku. Dalam konsepsi indie, distro dikenal sebagai butiknya indie. Dagangan didalamnya adalah dagangan yang tidak ada di toko-toko ataupun mal-mal pada umumnya. Distro adalah konsep toko eksklusif yang item dan jumlah setiap itemnya serba terbatas. Setiap item produk/desain diciptakan dan diproduksi secara customize (sesuai kebutuhan dan pemesanan). Reputasi distro sudah sangat aware dikalangan komunitas indie pada umumnya, karena seluruh kebutuhan dan citra/brand produk mereka hanya ada di distro termasuk beberapa komik-komik fotokopian.

Pemikiran toko komik/comic's distro adalah prinsip counter product, jadi toko komik bukanlah semata-mata akses penjualannya. Distribusi 'lampu merah' atau lapak tetap harus dilakukan sebagaimana mestinya produk-produk media pada umumnya. Disamping itu event sebagai program kegiatan yang dapat dijadikan sebagai media promosi tetap harus dilaksanakan secara berkala, minumum per 3 bulan sekali. Pelaksanaan event nantinya bisa menerapkan sistem launching komik-komik baru yang akan terbit. Pelaksanaan launching ini bisa dilaksanakan secara sederhana dengan cara mengandalkan jaringan kerja media sehingga publikasinya dapat ditangani dengan baik. Yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kehadiran komik-komik Indie tersebut tetap bisa muncul secara rutin, lebih dari itu bisa eksis dimasyarakat luas.[*]

1 Comments:

Blogger sede said...

aku punya komik indie sederhana.dimana toko yang mau menerima

March 20, 2009 12:09 AM  

Post a Comment

<< Home